Archive404 [03/10] : Suara Dari Lantai Atas
Bab 3 – Suara dari Lantai Atas
Pagi datang, namun rasa lelah tak juga hilang. Arman duduk di ruang tamu, menatap cangkir kopi yang sudah dingin. Malam sebelumnya masih terbayang jelas tetesan merah dari plafon dapur, langkah di atas kamar, dan tatapan kosong Nisa.
Maya duduk di sampingnya, wajahnya pucat. “Aku nggak bisa tidur. Suara itu terus ada. Seperti... orang berjalan mondar-mandir di atas kita.”
Arman menghela napas panjang. “Loteng. Mungkin ada tikus besar, atau kucing liar masuk dari genteng.”
Tapi ucapannya terdengar hambar. Ia sendiri tidak percaya dengan penjelasannya.
Siang itu, Arman mencoba memeriksa loteng. Ia membuka pintu kecil di plafon dengan kursi panjang sebagai pijakan. Aroma debu tua langsung menyeruak, menusuk hidung. Dengan senter di tangan, ia menyorot ke dalam.
Kosong. Hanya tumpukan kayu, debu tebal, dan sarang laba-laba. Namun, di salah satu sudut, terlihat bekas goresan panjang di lantai kayu seperti bekas kuku atau benda tajam yang diseret. Arman mendekat, tapi senter tiba-tiba redup, lalu mati.
Gelap total.
Dari kegelapan itu, Arman mendengar suara. Tap... tap... tap... langkah kaki pelan, mendekat dari arah belakang. Nafasnya tercekat. Ia buru-buru turun, menutup pintu loteng dengan hentakan keras.
Maya yang menunggu di bawah melihat wajah pucat suaminya. “Ada apa di sana?”
Arman menggeleng cepat. “Nggak ada apa-apa. Cuma debu.”
Tapi tangannya gemetar saat menurunkan kursi.
Malamnya, suara itu kembali. Kali ini lebih jelas. Seret... seret... tap... tap... Seolah ada seseorang yang menarik sesuatu berat di loteng, lalu berjalan mondar-mandir di atas kamar tidur mereka.
Nisa, yang biasanya tidur nyenyak, terbangun lagi. Ia menatap ke arah plafon dan berkata dengan suara kecil:
“Bapak itu marah...”
Maya langsung mendekap anaknya, ketakutan. “Bapak siapa, Nisa?”
Anak itu hanya menggeleng, matanya mulai berkaca-kaca. “Dia... nggak suka kita di sini.”
Arman terdiam, tubuhnya membeku. Suara dari loteng makin keras, kini seperti hentakan kaki yang marah.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, mereka bertiga berkumpul di satu kamar, memeluk satu sama lain, sementara di atas kepala mereka, sesuatu terus berjalan tanpa henti.
Bersambung...
➡️Bab Selanjutnya Di Sini
Bab Sebelumnya Di Sini ⬅️
-Archive404, Agus Salim
- - -
Donasi Lokal ( IDR )
Donasi Global ( USD )
- - -
Koleksi pakaian Archive404
➡️ Teepublic ⬅️
Tersedia Bermacam Warna Dan Ukuran
S/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
.jpg)


Komentar
Posting Komentar