Archive404 [02/10] Pemakaman Yang Salah
Bab 2 Pemakaman yang Salah Malam telah berganti dini hari, namun rumah Samin masih diterangi lampu minyak yang nyalanya bergetar kecil setiap kali angin malam menyusup dari celah dinding bambu. Seisi rumah sunyi. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan cangkir di dapur, di mana istrinya, Maimunah, duduk menatap kosong ke arah tungku yang mulai padam. Sejak pemakaman Karta selesai beberapa jam lalu, Maimunah tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya duduk diam, kadang menatap pintu, kadang menatap tanah, seolah menunggu seseorang masuk. Matanya bengkak karena tangis, tapi yang membuat Samin khawatir bukan tangisnya melainkan caranya menatap. Pandangan itu kosong, seolah separuh jiwanya ikut terkubur bersama anaknya. “Sudah malam, tidur lah, Maimunah,” ucap Samin lirih. Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. “Aku takut, Min… tadi waktu aku siram tubuhnya… tanganku terasa dingin sekali. Bukan seperti orang mati.” Samin menelan ludah. “Sudahlah, jangan ...