Archive404 [04/10] : Misteri Jendela Tertutup
Bab 4 – Misteri Jendela Tertutup
Hari ketiga di rumah itu berjalan dengan tegang. Maya mencoba mengalihkan pikiran dengan membereskan kamar, sementara Arman menyalakan radio tua di ruang tamu agar ada sedikit suara. Namun, rasa was-was tak pernah hilang.
Siang itu, Maya membuka semua jendela di lantai bawah agar udara segar masuk. Sinar matahari menerobos masuk, menyingkap debu yang berterbangan. Untuk sesaat, rumah itu terasa lebih normal.
Namun, saat ia kembali ke dapur hanya beberapa menit, Maya mendapati sesuatu yang membuat tubuhnya kaku jendela ruang tamu yang tadi terbuka lebar kini tertutup rapat. Kunci kayunya terkunci dari dalam.
Ia menatap bingung. “Man, kamu nutup jendela tadi?”
Arman yang sedang di tangga menggeleng. “Nggak. Dari tadi aku di sini.”
Maya menelan ludah. Ia kembali membuka jendela itu. Angin sore masuk, membawa bau tanah basah. Tapi belum sempat ia beranjak, bruk! jendela menutup sendiri dengan keras, seakan ada tangan tak terlihat yang menghentakkannya.
Nisa yang sedang bermain boneka di lantai menoleh cepat. “Itu tante lagi... dia nggak suka jendelanya dibuka.”
Arman dan Maya saling pandang, darah seakan berhenti mengalir.
Malamnya, peristiwa itu berulang. Setiap kali mereka membuka jendela, beberapa menit kemudian akan tertutup sendiri. Terkadang terdengar bunyi ketukan pelan di kaca, tok... tok... tok... dari luar, padahal ketika dicek, halaman kosong dan gelap gulita.
Hingga pada suatu malam, Maya terbangun karena mendengar bunyi itu lagi. Ia menoleh ke jendela kamar. Tirai putih bergetar pelan, padahal tak ada angin.
Pelan-pelan ia mendekat, tangannya meraih tirai. Tapi sebelum menyibakkannya, suara lain terdengar bisikan lembut, nyaris tak terdengar, namun jelas berasal dari balik kaca.
“...keluar...”
Maya terlonjak mundur. Arman yang juga terbangun segera menghampiri. Ia menarik tirai dengan cepat.
Kosong. Hanya kaca gelap memantulkan bayangan mereka sendiri.
Namun, di permukaan kaca itu, samar terlihat bekas telapak tangan kecil seolah seseorang baru saja menempelkan tangannya dari luar.
Arman menutup tirai dengan kasar, wajahnya pucat. Ia menoleh pada Maya dan berbisik:
“Kita harus tahu... siapa yang tinggal di rumah ini sebelum kita.”
Dan untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa gangguan ini bukan sekadar suara atau langkah. Ada sesuatu atau seseorang yang mencoba berkomunikasi dengan mereka.
Bersambung...
➡️Bab selanjutnya Di Sini
Bab Sebelumnya Di Sini ⬅️
-Archive404, Agus Salim
Donasi Lokal ( IDR )
Donasi Global ( USD )
- - -
Koleksi pakaian Archive404
➡️ Teepublic ⬅️
Tersedia Bermacam Warna Dan Ukuran
S/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
Tersedia Bermacam Warna Dan Ukuran
S/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
.jpg)


Komentar
Posting Komentar