Archive404 [02/10] Pemakaman Yang Salah
Malam telah berganti dini hari, namun rumah Samin masih diterangi lampu minyak yang nyalanya bergetar kecil setiap kali angin malam menyusup dari celah dinding bambu. Seisi rumah sunyi. Hanya terdengar suara sendok beradu dengan cangkir di dapur, di mana istrinya, Maimunah, duduk menatap kosong ke arah tungku yang mulai padam.
Sejak pemakaman Karta selesai beberapa jam lalu, Maimunah tidak berbicara sepatah kata pun. Ia hanya duduk diam, kadang menatap pintu, kadang menatap tanah, seolah menunggu seseorang masuk. Matanya bengkak karena tangis, tapi yang membuat Samin khawatir bukan tangisnya melainkan caranya menatap. Pandangan itu kosong, seolah separuh jiwanya ikut terkubur bersama anaknya.
“Sudah malam, tidur lah, Maimunah,” ucap Samin lirih.
Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya menggeleng pelan. “Aku takut, Min… tadi waktu aku siram tubuhnya… tanganku terasa dingin sekali. Bukan seperti orang mati.”
Samin menelan ludah. “Sudahlah, jangan dipikirkan. Besok pagi kita kirim doa bersama Pak Modin.”
Namun sebelum sempat melangkah ke kamar, angin berhembus kencang lewat jendela. Suara berderak terdengar dari atap, seperti ada yang melangkah di atasnya. Samin segera mengambil lampu petromaks dan keluar rumah. Halaman depan tertutup kabut tipis, embun menggantung di ujung rumput. Tapi di antara kabut itu, Samin melihat sesuatu di bawah pohon pisang.
Sebuah gundukan tanah kecil. Seolah baru saja digali lalu ditimbun kembali. Ia mendekat pelan. Tanahnya masih lembap, ada bekas tapak kaki kecil di sekitarnya mungkin tapak manusia tanpa alas kaki. Dan di tengah gundukan itu, tergeletak sesuatu yang membuat darahnya berdesir.
Tali pocong.
Kotor oleh tanah dan masih basah seperti baru saja dicabut dari liang kubur.
Samin mundur selangkah, tubuhnya gemetar. “Astaghfirullah… ini apa artinya?”
Tiba-tiba dari balik kabut terdengar suara langkah. Lamat-lamat, mendekat pelan. Samin menajamkan pendengaran. Langkah itu berat, menyeret, dan tidak berirama seperti manusia biasa berjalan.
Samin memegang erat petromaks, mengangkatnya tinggi. “Siapa di sana?!”
Kabut menebal. Lalu muncul siluet tinggi, berjuntai, seluruh tubuhnya dibungkus kain putih yang kotor oleh lumpur.
Tidak menapak, melainkan melayang perlahan.
Samin terpaku. Nafasnya tertahan. Sosok itu berhenti hanya beberapa langkah di depannya. Kain kafan di bagian wajahnya tampak sobek sedikit, memperlihatkan kulit pucat kehijauan dan bibir yang kaku.
Dari sela-sela kain, terdengar suara bergetar pelan
“Ayah…”
Samin menjatuhkan lampu petromaks. Kaca pecah, minyak tumpah ke tanah, menyala seketika dan menerangi halaman dengan cahaya oranye bergetar. Dalam cahaya itu, pocong itu terlihat jelas matanya setengah terbuka, mulutnya membentuk senyum kecil yang aneh.
Dan sebelum nyala api padam, Samin melihat sesuatu yang membuat hatinya luruh di dada sosok itu, tergantung sebuah kalung kayu kecil, kalung yang ia buat sendiri untuk Karta waktu anaknya masih kecil.
Samin jatuh berlutut, tak mampu bersuara. Api perlahan padam, dan sosok itu menghilang bersama kabut.
Namun bau tanah basah dan anyir darah masih tertinggal di udara.
Pagi harinya, warga desa geger.
Kuburan Karta ditemukan terbuka sebagian, tanahnya berantakan, dan di sisi liang terdapat bekas jejak seperti seseorang melompat keluar. Tak ada tanda-tanda digali hewan, karena tanah di sekelilingnya masih utuh. Pak Modin yang datang lebih dulu hanya bisa terdiam lama.
Ia berbisik pada Samin, “Ini bukan kuburan yang tenang, Min. Ada yang salah dari pengafanan semalam.”
Samin menunduk, keringat dingin membasahi tengkuknya.
“Jadi kau yakin dia belum… pergi?”
Pak Modin memejamkan mata, menarik napas panjang. “Aku pernah dengar, kalau tali pocong tidak dilepaskan dengan benar, roh orang itu akan terikat. Ia akan bangkit, bukan untuk menakuti, tapi karena minta dilepaskan. Kalau benar begitu, yang kau lihat semalam bukan setan, tapi anakmu sendiri yang belum bisa beristirahat.”
Samin gemetar. “Tapi… aku sendiri yang mengikatnya. Tiga kali, sesuai adat.”
Pak Modin menatapnya tajam. “Siapa yang menguburnya?”
“Orang-orang ronda, dibantu warga.”
“Apakah ada yang melihat tali di kepala diikat atau dilepas?”
Samin terdiam. Ia mencoba mengingat. Tapi malam itu terlalu kabur, terlalu panik. Ia hanya ingat lampu petromaks yang bergetar dan doa yang terburu-buru. Setelah itu semua menjadi gelap.
Pak Modin menepuk bahunya. “Kita harus periksa malam ini juga. Sebelum arwahnya benar-benar marah."
Malam pun tiba lagi. Kabut datang lebih cepat dari biasanya. Samin, Pak Modin, dan dua warga membawa cangkul serta lampu minyak menuju pemakaman di pinggir hutan.
Udara dingin menusuk tulang, dan bau tanah lembap terasa pekat.
Ketika mereka tiba di kuburan Karta, tanah itu tampak bergerak sedikit, seperti masih hidup. Samin menahan napas, sementara Pak Modin berdoa pelan sebelum mulai menggali.
Satu sekop, dua sekop, tiga sekop…
Lalu tanah bagian atas tiba-tiba ambruk, memperlihatkan kain putih yang kusut.
Pak Modin mengarahkan lampu.
Tali pocong di kepala masih terikat erat, tapi kain bagian dada terbuka sedikit, dan di sana… tampak tangan Karta, masih segar, jari-jari kaku menggenggam kuat segenggam tanah.
Samin jatuh terduduk. “Ya Allah… dia mencoba keluar…”
Pak Modin menatap ngeri. “Kita harus lepaskan ikatannya sekarang. Malam ini juga.”
Namun sebelum sempat disentuh, tanah di sekitar liang bergetar halus. Kabut semakin tebal. Dari antara kabut itu muncul bayangan tinggi seperti seseorang berdiri di belakang mereka. Ketika Pak Modin menoleh, lampu di tangannya bergetar hebat, lalu padam.
Gelap.
Sunyi.
Hanya terdengar napas mereka yang tercekat.
Lalu terdengar suara dari dalam liang
“Jangan buka… biarkan aku… seperti ini…”
Samin berteriak histeris. Cangkul terlepas dari tangannya.
Dan malam itu, semua orang yang datang ke pemakaman tidak kembali pulang sebelum fajar.
BERSAMBUNG...
➡️Bab Sebelumnya Di Sini
Bab Slanjutnya [ SEGERA HADIR ]
-Archive404, Agus Salim
Donasi Lokal ( IDR )
Donasi Global ( USD )
- - -
Tersedia Bermacam Warna Dan Ukuran
S/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar