Archive404 [05/10] Bayangan Di Lorong
Bab 5 – Bayangan di Lorong
Malam itu rumah begitu senyap. Jam dinding tua di ruang tamu berdetak lambat, membuat suasana semakin menekan. Arman duduk di kursi rotan, mencoba membaca koran bekas yang ia temukan di laci, sementara Maya sibuk menidurkan Nisa di kamar atas.
Hanya lampu lorong yang menyala redup, bohlam kuningnya berkedip-kedip, seakan akan mati kapan saja. Lorong itu panjang, membelah lantai bawah menjadi dua bagian: ruang tamu di sisi kiri, dapur di sisi kanan, dan ujungnya menuju pintu belakang yang gelap.
Arman sempat menoleh ke lorong. Hanya bayangan perabotan tua yang terpantul. Ia kembali membaca, berusaha menenangkan pikiran. Tapi tiba-tiba, dari sudut matanya, ia menangkap sesuatu.
Bayangan hitam bergerak cepat di ujung lorong.
Arman meletakkan korannya, matanya menatap lekat ke arah lorong yang kosong. Tidak ada siapa pun. Hanya kursi tua dan meja kecil. Ia menghela napas panjang, mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanyalah efek cahaya.
Namun ketika ia berdiri untuk memastikan, bulu kuduknya meremang. Di tengah lorong yang redup, kini ada siluet berdiri. Tubuhnya tinggi, kurus, tanpa wajah. Hanya bayangan pekat, seperti asap hitam yang membentuk sosok manusia.
Arman mundur selangkah, jantungnya berdegup keras. “Maya...” suaranya bergetar, namun istrinya tidak mendengar.
Sosok itu tak bergerak. Hanya berdiri menatapnya atau lebih tepatnya, menghadap ke arahnya. Suasana begitu mencekam, seakan udara di lorong tersedot habis.
Lalu, perlahan-lahan, bayangan itu melangkah. Duk... duk... duk... suaranya berat, meski kaki itu tidak menyentuh lantai.
Arman hendak berteriak, tapi tubuhnya kaku. Ia hanya bisa mundur ke belakang, sampai punggungnya menempel ke dinding ruang tamu.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kecil menuruni tangga. Itu Nisa. Ia berjalan setengah mengantuk, membawa bonekanya.
“Nisa! Jangan” seru Arman.
Tapi terlambat. Gadis kecil itu menoleh ke lorong. Matanya membesar, tapi bukannya takut, ia tersenyum.
“Itu tante...” katanya pelan. “Tante nunggu di sana.”
Seketika, bayangan hitam itu lenyap. Lampu lorong berhenti berkedip, kembali menyala stabil. Hanya keheningan yang tersisa.
Maya berlari turun setelah mendengar suara Arman. “Ada apa?!” tanyanya panik.
Arman hanya bisa menunjuk lorong dengan wajah pucat. “Ada... sesuatu di sana...”
Nisa memeluk bonekanya erat, menatap lorong dengan mata berbinar seolah ia melihat sesuatu yang orang tuanya tidak bisa lihat.
Malam itu, mereka bertiga akhirnya tidur bersama di ruang tamu. Tidak ada yang berani menutup mata terlalu lama, karena mereka tahu, lorong itu kini menyimpan ses
uatu yang lebih dari sekadar bayangan.
BERSAMBUNG...
➡️Bab Sebelumnya Di Sini
Bab selanjutnya Di Sini⬅️
-Archive404, Agus Salim
Donasi Lokal
Donasi Global
- - -
Koleksi pakaian Archive404
➡️ Teepublic ⬅️
.jpg)


.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar