Archive404 [02/10] : Malam Pertama Yang Aneh
Bab 2 – Malam Pertama yang Aneh
Malam turun dengan cepat di gang itu. Lampu jalan satu-satunya berada jauh di mulut gang, sehingga bagian ujung tempat rumah mereka berdiri tenggelam dalam kegelapan. Dari jendela lantai dua, Arman bisa melihat hanya ada bayangan samar pepohonan, tiang listrik, dan gelap yang pekat seolah menelan segalanya.
Maya sedang menidurkan Nisa di kamar. Suara jangkrik terdengar dari luar, namun di sela-selanya ada suara lain seperti bisikan yang tertiup angin, samar, tapi cukup membuat Maya resah.
“Man,” panggilnya lirih ketika Arman masuk membawa air minum. “Kamu dengar nggak?”
Arman berhenti, menajamkan telinga. Hening. Hanya suara malam. Ia menggeleng. “Mungkin cuma angin.”
Maya tak yakin, tapi mencoba menutup mata. Ia mendekap Nisa lebih erat, anak itu masih gelisah dan sesekali merengek.
Menjelang tengah malam, rumah itu berubah. Lantai kayu seakan bernapas, berderit pelan meski tak ada yang berjalan. Dari dapur terdengar suara tetesan air, padahal keran sudah dimatikan.
Arman yang belum bisa tidur turun ke bawah. Lampu ruang tamu berkelip-kelip sebelum redup. Ia berjalan pelan ke dapur. Bau apek semakin pekat, bercampur sesuatu yang seperti besi berkarat.
Tik... tik... tik...
Air menetes dari keran. Ia meraih gagangnya tertutup rapat. Tapi tetesan itu terus terdengar, bukan dari keran, melainkan dari langit-langit. Arman mendongak. Ada noda gelap di papan kayu atas, membesar pelan, menetes ke lantai. Cairannya kental, warnanya merah gelap.
Jantung Arman berdegup kencang. Ia mundur selangkah. Suara lain terdengar dari ruang tamu seperti kursi diseret lagi, sama seperti sore tadi.
“Man!” suara Maya tiba-tiba terdengar dari atas, panik. “Cepat naik! Nisa!”
Arman berlari ke tangga. Dari balik kamar, suara Nisa menangis keras, lalu mendadak berhenti.
Ketika Arman membuka pintu, Nisa duduk di atas ranjang, matanya terbuka lebar menatap langit-langit. Jari kecilnya menunjuk ke atas, gemetar.
“Ada orang...” bisiknya.
Arman dan Maya menoleh serentak. Plafon kamar bergoyang pelan, seperti ada sesuatu yang berjalan di atasnya. Padahal lantai dua seharusnya adalah ruangan terakhir tak ada ruang lain di atas plafon itu, kecuali loteng yang sudah lama tertutup.
Maya memeluk Nisa erat. Arman berdiri kaku, keringat dingin menetes. Ia tahu malam pertama mereka di rumah itu belum berakhir.
Dan di luar jendela, gang sepi itu tetap gelap, seolah menutup mata pada apa yang sedang terjadi di dalam rumah.
Bersambung...
➡️Bab selanjutnya Di Sini
Bab Sebelumnya Di Sini⬅️
-Archive404, Agus Salim
- - -
Dukungan Lokal ( IDR )
Dukungan Global ( USD )
- - -
Koleksi pakaian Archive404
➡️ Teepublic ⬅️
Tersedia Bermacam Warna Dan Ukuran
S/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
Tersedia Bermacam Warna Dan Ukuran
S/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
.jpg)


Komentar
Posting Komentar