Archive404 [01/10] Kedatangan Di Desa Waringin
Bab 1 – Kedatangan di Desa Waringin
Tahun 1983, di tengah kabut pagi yang pekat dan udara lembap khas pedesaan Jawa Timur, sebuah truk kayu tua berwarna hijau berhenti di tepi jalan berbatu yang sepi. Dari dalamnya, turun seorang pria muda bernama Raka, berusia dua puluh tujuh tahun, dengan ransel besar di punggung dan wajah kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang dari kota.
Desa yang ia tuju bernama Desa Waringin, sebuah desa terpencil yang tidak tercantum di sebagian besar peta. Ia datang ke sana untuk urusan pekerjaan sebuah penelitian lapangan tentang kebiasaan pertanian tradisional namun juga karena ingin menjauh dari hiruk-pikuk kota setelah kehilangan ibunya tiga bulan sebelumnya.
Ketika ia melangkah di jalan setapak yang dikelilingi sawah luas dan pepohonan randu tua, hawa dingin menembus sampai ke tulang. Kabut menutupi pandangan, membuat Raka nyaris tak bisa melihat lebih dari sepuluh meter ke depan. Suara jangkrik dan sesekali lolongan anjing terdengar jauh di balik kabut itu, membuat langkahnya melambat tanpa sadar.
Ia tiba di rumah kayu besar yang katanya disiapkan oleh kepala desa sebagai tempat tinggalnya selama penelitian. Rumah itu tampak kuno, dindingnya dari papan jati yang mulai kusam, dan atap gentingnya berlumut. Di beranda, seorang lelaki tua berpeci hitam sedang duduk sambil menghisap rokok kretek, asapnya menari di udara pagi.
“Sampeyan Raka, to?” tanya lelaki itu dengan suara berat dan pelan.
Raka mengangguk sopan. “Iya, Pak. Saya datang sesuai surat dari kantor. Bapak Kepala Desa Sastro, kan?”
Orang tua itu tersenyum tipis. “Betul. Monggo, masuk. Rumah ini memang sudah lama tak dipakai, tapi masih kuat kok. Cuma... ya, kalau malam agak ramai sedikit.”
Raka mengerutkan kening. “Ramai, Pak?”
Kepala Desa Sastro terkekeh pelan, namun matanya tak ikut tersenyum. “Namanya juga rumah tua di pinggir sawah. Kadang ada suara angin, kadang juga... suara yang bukan angin.”
Ucapan itu diiringi tatapan tajam sesaat, lalu beliau berbalik, memanggil seorang pemuda desa bernama Leman untuk membantu Raka menurunkan barang. Leman tampak enggan, beberapa kali menatap ke arah rumah seperti tak nyaman. Saat mereka selesai, ia berbisik cepat pada Raka sebelum pergi.
“Mas... kalau malam, jangan buka jendela belakang, ya. Jangan tanya kenapa. Pokoknya jangan.”
Sebelum Raka sempat bertanya, Leman sudah berlalu dengan langkah cepat.
Malam pertama di rumah itu datang lebih cepat dari yang ia kira. Matahari tenggelam di balik barisan pohon kelapa, meninggalkan langit merah darah yang perlahan berubah hitam. Di kejauhan, suara burung hantu bersahutan. Raka menutup buku catatannya dan memutuskan tidur lebih awal. Tapi ketika jam menunjukkan pukul 11 malam, sesuatu membuatnya terbangun.
Dari arah belakang rumah, terdengar suara kain terseret di lantai, pelan... lalu berhenti... kemudian terdengar lagi.
Srek... srek... srek...
Raka menahan napas. Ia menajamkan pendengaran, memastikan bahwa suara itu nyata. Jantungnya berdegup kencang.
Ia berdiri, menyalakan lampu minyak, lalu melangkah ke arah pintu belakang. Lantai kayu berderit pelan di setiap langkahnya.
Namun ketika ia membuka pintu itu, tak ada siapa pun di sana.
Hanya hamparan sawah gelap tertutup kabut, dan di kejauhan... sesuatu tampak berdiri tegak di ujung pematang.
Putih. Panjang.
Seperti tubuh seseorang yang dibungkus kain kafan.
Raka memejamkan mata sejenak, menenangkan diri. “Ah, mungkin karung padi,” gumamnya menipu diri sendiri. Tapi di hatinya, ketakutan mulai tumbuh.
Karena karung padi itu tadi... terlihat sedikit bergoyang.
BERSAMBUNG...
-Archive404, Agus Salim
➡️Bab Selanjutnya Di Sini
Donasi Lokal ( IDR )
Donasi Global ( USD )
- - -
Koleksi pakaian Archive404
➡️ Teepublic ⬅️
Tersedia Bermacam Warna Dan UkuranS/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
Tersedia Bermacam Warna Dan UkuranS/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
Tersedia Bermacam Warna Dan UkuranS/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
ni
Tersedia Bermacam Warna Dan UkuranS/M/L/XL -XXXXXL
Link Pembeliannya Di Sini
.jpg)


.jpg)
.jpg)
Komentar
Posting Komentar